Sesi Teduh – Sudono Salim pendiri bank BCA dikenal sebagai sosok pengusaha besar yang membangun kerajaan bisnisnya dari kondisi yang sangat sederhana. Perjalanan hidupnya sering dijadikan contoh tentang ketekunan, keberanian merantau, serta kecerdikan membaca peluang usaha. Dari latar belakang keluarga petani miskin di Tiongkok hingga menjadi tokoh penting dalam sejarah ekonomi Indonesia, kisah hidupnya memperlihatkan bahwa kesuksesan lahir dari proses panjang dan penuh tantangan. Langkah demi langkah yang ia ambil membentuk fondasi kuat bagi Salim Group dan peran besarnya dalam perkembangan sektor perbankan nasional.
Awal Kehidupan dan Latar Belakang Keluarga

Sudono Salim pendiri bank BCA lahir dengan nama Liem Sioe Liong di Fuqing, Fujian, pada tahun 1916. Ia tumbuh dalam keluarga petani dengan kondisi ekonomi terbatas sehingga pendidikan formal harus terhenti sejak usia muda. Sejak remaja, ia sudah terbiasa bekerja keras membantu orang tua dengan berdagang mi di sekitar desa. Pengalaman ini membentuk karakter ulet dan mandiri yang terus ia bawa hingga dewasa. Keterbatasan hidup tidak membuatnya menyerah, justru menumbuhkan tekad kuat untuk mengubah nasib. Ia belajar memahami nilai kerja keras, kejujuran, serta pentingnya jaringan sosial. Nilai tersebut kelak menjadi modal penting saat ia terjun ke dunia usaha di negeri perantauan. Lingkungan sederhana tempat ia dibesarkan membentuk pola pikir praktis dan berorientasi hasil yang kemudian membedakannya dari banyak pengusaha lain pada masanya.
Keputusan Merantau ke Indonesia

Keberanian Sudono Salim pendiri bank BCA terlihat jelas saat ia memutuskan merantau ke Indonesia pada tahun 1939 mengikuti jejak sang kakak. Kemudian, perjalanan panjang selama sebulan dengan kapal dagang Belanda menjadi awal babak baru hidupnya. Setibanya di Indonesia, ia memilih menetap di Kudus yang dikenal sebagai pusat industri rokok kretek. Selain itu, di kota ini, ia mulai membangun relasi dan belajar menjadi pemasok cengkeh bagi pabrik rokok. Aktivitas dagang ini melatihnya membaca kebutuhan pasar serta mengelola arus barang dan uang. Oleh karena itu, kehidupan perantauan penuh tantangan, namun ia mampu beradaptasi dengan cepat. Namun, melalui kerja keras dan kejelian, bisnisnya perlahan tumbuh. Sehingga, meski sempat terpukul oleh pendudukan Jepang yang membuat usahanya bangkrut, pengalaman pahit tersebut justru memperkaya kemampuannya dalam menghadapi risiko dan perubahan ekonomi. Akhirnya, ia menjadi lebih tangguh dalam menjalani dunia usaha.
Bangkit dan Membangun Jaringan Bisnis

Setelah melewati masa sulit, Sudono Salim pendiri bank BCA bangkit dengan semangat baru dan memindahkan pusat aktivitasnya ke Jakarta. Di ibu kota, ia mulai memperluas jaringan bisnis dan menjalin kemitraan strategis dengan berbagai pihak. Ia tidak hanya fokus pada satu sektor, melainkan merambah perdagangan, distribusi, hingga industri manufaktur. Pendekatan ini membuat usahanya lebih tahan terhadap gejolak ekonomi. Ia dikenal piawai menjalin hubungan dengan mitra bisnis dan memahami dinamika kebijakan pemerintah. Keahlian tersebut membantu langkah ekspansinya berjalan lebih lancar. Dalam periode ini, fondasi Salim Group mulai terbentuk dengan visi jangka panjang yang jelas. Ia menempatkan kepercayaan dan konsistensi sebagai kunci utama dalam setiap kerja sama. Strategi bisnis yang terukur membuat kelompok usahanya terus berkembang dan siap memasuki fase pertumbuhan yang lebih besar.
Peran Besar di Masa Orde Baru
Memasuki era Orde Baru, Sudono Salim pendiri bank BCA memainkan peran penting dalam pembangunan industri nasional. Bersama rekan rekan dekatnya, ia mendirikan CV Waringin Kentjana yang kemudian melahirkan berbagai perusahaan besar. Salah satu tonggak penting adalah berdirinya PT Bogasari Flour Mill pada tahun 1969 yang menjadi produsen tepung terigu terbesar di Indonesia. Keberhasilan ini menunjukkan kemampuannya melihat kebutuhan pangan strategis masyarakat. Tidak berhenti di situ, pada dekade berikutnya ia turut mendirikan Bank Central Asia bersama Mochtar Riady. Bank ini berkembang pesat dan menjadi salah satu bank swasta terbesar di Indonesia. Keberadaan BCA memperkuat perannya dalam sistem keuangan nasional serta memperluas pengaruh bisnis Salim Group di berbagai sektor ekonomi.
Tantangan Krisis dan Warisan Bisnis
Krisis moneter 1997 menjadi ujian berat bagi Sudono Salim pendiri bank BCA dan seluruh kelompok usahanya. Banyak perusahaan mengalami tekanan keuangan besar dan harus melakukan penyesuaian drastis. Meski demikian, pengalaman panjang membuatnya mampu menghadapi situasi sulit dengan sikap realistis. Beberapa aset dilepas untuk menutup kewajiban dan menjaga stabilitas usaha yang tersisa. Dari masa krisis ini, pelajaran penting tentang manajemen risiko dan keberlanjutan bisnis menjadi warisan berharga. Hingga kini, pengaruhnya masih terasa melalui perusahaan perusahaan besar yang ia rintis. BCA tumbuh menjadi bank kuat di bawah kepemilikan baru, sementara nama Sudono Salim tetap dikenang sebagai simbol pengusaha perintis yang berani mengambil risiko dan berpikir jauh ke depan.
